Time For Us : Time 1

Time 1 : The Girls and Their Fathers

Ilsan, Juli 2000

Seorang gadis kecil dengan mata sembab duduk diapit sepasang suami istri yang terus menghiburnya. Pemakaman orang tuanya baru saja usai dan si gadis kecil menjadi yatim piatu. Tangisnya sudah reda, namun kini dia membisu. Si anak lelaki pasangan suami istri itu menatap si gadis kecil khawatir. Hatinya sakit melihat sahabatnya begitu sedih dan menderita.

“HyeKi~ya,” panggil Ibu si anak lelaki pada si gadis kecil. “Uljima, kau akan tinggal bersama kami mulai hari ini, otte?”

Gadis kecil itu mengangguk pelan, lalu menunduk dan mulai menangis lagi. Si anak lelaki ingin sekali mendekatinya dan memeluk gadis kecil itu untuk menenangkannya. Tiba-tiba seseorang mendekati mereka. Dia Hyeorim ahjumma, salah satu tetangga mereka.

“Seorang laki-laki datang padaku, dia mencari HyeKi,” mata Hyeorim ahjumma melirik HyeKi panik, “dia bilang dia akan membawa HyeKi bersamanya. Dia mengaku sebagai ayahnya,” ucap Hyeorim ahjumma. Kentara sekali dia tidak percaya pada orang yang mengaku sebagai ayah HyeKi tersebut.

“Kami akan menemuinya,” putus pasangan suami istri tersebut, lalu berpaling pada anak lelaki mereka, “Minho~ya, kau bisa jaga HyeKi sebentar kan?”

Minho, si anak lelaki yang masih menatap HyeKi, mengangguk. “Ne~,” lalu kedua orangtuanya meninggalkan mereka.

Minho mendekati Hyeki, mengelus rambut pendek sebahu gadis kecil itu. “Uljima,” katanya sambil mengusap air mata Hyeki, tapi HyeKi malah menangis semakin kencang. Minho memeluk Hyeki, membiarkan gadis itu melepas kesedihannya.

Sepuluh menit kemudian, orang tuanya, suami istri Choi, kembali dan HyeKi sudah tertidur di pangkuan Minho. Di belakangnya sesosok lelaki berbadan tegap mengikuti langkah kedua orangtuanya.

“Dia tidur,” bisik Nyonya Choi, sambil menggendong HyeKi, lalu menyerahkannya pada lelaki itu.

“Saya akan membawanya pulang,” ucap lelaki itu sambil menatap wajah HyeKi yang tertidur lelap.

“Jagalah dia baik-baik, Tuan Park,” pesan Tuan Choi pada lelaki itu.

“Tentu saja. Aku appa-nya,” jawab Tuan Park sambil tersenyum, memperlihatnya lesung pipi yang nyaris sama dengan yang dimiliki HyeKi.

Dan saat itu juga Minho sadar, mungkin ini adalah hari terakhirnya melihat HyeKi.

* * *

HyeKi terbangun dalam keadaan bingung. Dia mengucek matanya berulang kali, berharap matanya salah. Seingatnya dia masih tertidur di pangkuan Minho sore tadi dan tiba-tiba kini ia terbangun di atas tempat tidur di sebuah kamar. Kamar ini berwarna biru, warna kesukaannya. Jelas ini bukan kamar Minho, HyeKi sudah sering keluar masuk kamar Minho hingga dia ingat dengan jelas. Kamar ini juga bukan kamarnya, kamarnya tidak seluas ini. Lalu dimana dia?

Sesosok pria nampak tertidur di sofa di samping tempat tidur HyeKi. HyeKi turun dari tempat tidur, lalu mendekati pria tersebut dengan penasaran. HyeKi tertegun. Dia pernah melihat orang ini. Dia ada di sebuah foto bersama HyeKi kecil dan orang tuanya. Tapi siapa dia?

“Eo, kau sudah bangun?” pria itu mendadak terbangun, mengagetkan HyeKi.

“Ah ye, ahjusshi,” jawab HyeKi. “Na eodigessoyo?” wajah polosnya berkerut bingung.

Pria itu, Park Jungsoo, tersenyum ramah. “Rumahmu,” jawabnya singkat.

“Mwo?” HyeKi terpekik.

Jungsoo masih tersenyum, sedikit menunduk untuk menyejajarkan matanya dengan HyeKi. “Ne, dan jangan panggil aku ahjusshi. Aku adalah appa-mu,” tambahnya lagi.

——————————————————————————————————————————-

Seoul, Juli 2011

Aku pikir aku akan terus sendirian, tapi ternyata aku salah.

HyeKi POV.

Aku duduk di ruang makan, sendirian mengoleskan selai keju di atas roti. SooYan ahjumma, kepala pelayan di rumah ini, bolak-balik mengecek keadaanku yang makan dengan lambat. Aku mengigit rotiku sambil memandang berkeliling ruang makan mewah yang berwarna putih ini.

Ya, rumah besar ini memang selalu sepi. Dihuni hanya oleh dua orang yang salah satunya terlalu sibuk. Aku menghela nafas, apakah appa tidak pernah libur?

Tanpa kusadari, SooYan ahjumma sudah muncul lagi di dapur setelah menyelesaikan urusannya, mengatur kerapian taman belakang.

“Aigoo~ nona Park, kalau makanmu sedikit, kau akan sakit. Sajangnim bisa-bisa memecatku,” omelnya sambil menatapku khawatir.

Aku mendengus. “Tenang saja, appa tidak akan peduli,” jawabku asal sambil mengunyah potongan roti terakhir.

“Siapa bilang appa tidak akan peduli?” suara itu benar-benar mengagetkanku. Membuatku nyaris tersedak. Aku menoleh ke arah suara dan menemukan sosoknya yang memakai stelan lengkap itu tersenyum sempurna.

“APPA?!” teriakku histeris.

* * *

Jungsoo POV.

Aku tidak bisa menahan tawaku, melihat eskpresi terkejut di wajahnya. Gadis kecilku, putri kecilku memang tidak pintar berbohong.

“Wae? Kau kaget?” tanyaku sambil duduk di kursi yang memang menjadi tempatku.

HyeKi mendengus. “Aku pikir aku tidak akan bertemu appa lagi hari ini,” ujarnya kesal.

Aku tertawa lagi, lalu mengacak-acak rambut panjangnya. “Kau benar. Appa hanya pulang sebentar untuk bertemu denganmu,” kataku sambil tersenyum.

HyeKi merengut mendengar kata sebentar. Perhatianku teralihkan saat SooYan meletakkan secangkir kopi di atas meja makan, lalu permisi kembali ke dapur.

Aku mengambil sekotak coklat dari dalam tas kantorku bersama sekotak kado. HyeKi mengernyit menatap barang-barang itu.

“Ige mwoya?” tanyanya.

“Hadiah. Permintaan maaf appa padamu,” jawabku sambil menatap buah hatiku itu. “Appa akan sibuk sekali minggu-minggu ini dan Appa minta maaf padamu. Setelah semua urusan ini selesai, kita akan liburan kemana pun yang kau mau. Otte?” aku menyelesaikan kalimatku dengan penuh kelembutan.

Hyeki menghela nafas, kelihatan berpikir. “Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan selain mengikuti keinginan appa?” tanyanya retoris, lalu tiba-tiba dia tersenyum lebar. “Aku setuju,” tambahnya girang.

Aku melepas senyum terbaikku dan memeluk putri semata wayangku. Tujuanku menjemputnya sebelas tahun yang lalu adalah untuk membahagiakannya. Dan dia harus bahagia.

“Appa akan kembali ke kantor sekarang. Banyak yang harus diurus,” kataku sambil mengirimkan pesan pada Yesung agar mendatangiku di ruang makan.

HyeKi mengangguk. “Kau,” tunjukku padanya,” jangan meninggalkan rumah seenaknya. Kemana pun kau pergi harus bersama Seunghyun ahjussi, arraseo?” tekanku padanya.

“Ne, arraseoyo appa,” jawab HyeKi. Yesung sudah berada di ruang makan dan aku bangkit berdiri. HyeKi ikut berdiri dan memelukku.

“Bogoshipoyo,” ucapnya pelan.

“Nado bogoshipo, jangan nakal ya, Park HyeKi,” tambahku sambil mengecup puncak kepalanya , melepas pelukannya dan berangkat ke kantor.

* * *

HyeKi POV.

Seunghyun ahjusshi sudah menungguku di samping black mercedes.

SooYan ahjumma berulang kali mengingatkanku untuk berhati-hati. Aku hanya setengah mendengar peringatannya yang selalu diulangnya sejak pertama kali aku tiba di rumah ini, saat usiaku tujuh tahun.

Aku mengisyaratkan pada Seunghyun ahjusshi dan kami pun segera berangkat menuju kampus. Biarpun usiaku baru 18 tahun, aku sudah jadi mahasiswi tingkat 2 jurusan ekonomi Seoul University. Didikan appa dan warisan kepintarannya sebenarnya bisa saja membuatku kuliah di luar negeri, tapi dengan alasan keamanan, appa melarangku.

Seunghyun ahjusshi adalah pengawalku atau aku lebih senang menyebutnya penjagaku. Perusahaan appa yang semakin hari semakin berkembang pesat adalah alasan mengapa aku harus selalu dijaga. Sebagai satu-satunya keturunan keluarga Park, secara tidak resmi aku sudah dinyatakan sebagai pewaris seluruh kekayaannya. Tentu saja, menjadikanku sebagai akses bagi orang-orang yang iri untuk menjatuhkan appa. Dan tugas Seunghyun ahjusshi lah untuk menjagaku.

Seunghyun ahjusshi menemaniku kemana pun aku pergi. Padahal aku tahu dia juga punya seorang putri yang lebih tua 4 tahun daripadaku.

“Ahjusshi, sepulang kuliah, bagaimana kalau kita mampir ke kantor appa?” tanyaku bersemangat.

Seunghyun ahjusshi tersenyum, “Sajangnim sedang sibuk. Lain kali saja kita ke sana ya?” tolaknya halus.

Aku langsung cemberut. “Lalu bagaimana kalau kita mengunjungi Hyemi onnie di kampusnya?” tanyaku lagi. Hyemi onnie adalah putri Seunghyun ahjusshi.

“Tidak perlu ahgashi, kapan-kapan kita bisa ke sana,” tolaknya lagi.

“Ah ya, besok aku akan izin tidak bisa mengawalmu ahgashi,” tiba-tiba Seunghyun ahjusshi memberitahuku.

“Hee? Wae?” tanyaku penasaran.

“Hyemi akan dilantik menjadi menjadi jaksa,” jawab Seunghyun ahjusshi. Aku bisa mendengar nada bangga dalam nada suaranya. Terlihat jelas juga dari senyum di wajahnya.

“Wuaah, daebak!! Cukhae ahjusshi. Aku titip karangan bunga yang besar untuk Hyemi onnie,” seruku bersemangat. “Kalau begitu sepulang kuliah nanti, kita harus mampir di toko bunga.”

Seunghyun ahjusshi hanya tersenyum. Sekali-kali ikut merayakan kebahagiaan orang lain, tak ada salahnya kan?

* * *

Hyemi POV

Tut. Tut. Tut. Sial! Lagi-lagi appa tidak mengangkat teleponku. Pasti dia sedang sibuk mengawal Nona Chaebol Park itu. Menyebalkan! Padahal besok aku akan dilantik, tapi appa belum memberiku kabar sama sekali, apakah beliau bisa hadir atau tidak.

“Ya! Kang Hyemi, kalau aku bicara kau seharusnya mendengarkan,” tegur Minho, sahabatku kesal. “Hyemi~ya,” panggil Minho lagi sambil melambaikan tangan di depan wajahku.

“Aish, jinja! Choi Minho, aku mendengar suaramu, tapi bisakah kau diam sebentar. Aku sedang memikirkan appaku,” rutukku kesal.

Minho terkekeh tanpa rasa bersalah. “Tenang saja, appamu itu sayang sekali padamu, dia pasti akan datang besok,” ujar Minho menenangkanku. Ajaib! Seperti tersihir, pembawaanku yang tadinya meledak-ledak langsung mendingin begitu mendengar kata-katanya. Aigoo, Minho~ya, kapan aku bisa lepas dari dirimu?

Minho berdiri dan mengacak-acak rambutku pelan. “Ayo, kita harus gladi resik untuk besok,” ajaknya sambil tersenyum.

Aku mengangguk, mengikuti langkahnya yang berjalan menuju aula dengan santai. Kupandangi sosoknya yang selalu kulihat sejak masuk universitas dari belakang. Minho~ya, nan nega joh-a (aku menyukaimu), apa kau tahu?

* * *

TBC

Author’s note :

Annyeong, yeorobeun. Haha, aku lagi stres nih, makanya bikin FF baru. udah berani bikin sequel baru, padahal yang HIDE aja belum kelar. sabar yaa, moodku untuk yang action, lagi mampet, ahaha #ngeles

daaan ini adalah FF pertamaku yang semua pairingnya menggunakan pairing favorit aku di dunia per-FF-an. Buat yang namanya ada, namanya aku pinjam dlu yaa saudara-saudara sekalian, hak cipta namanya ttp ada di kalian kok. Pemakaian nama hanya sekedar bentuk rasa kagum aku sama pairnya kalian.

Terus, itu poster #tunjuk ke atas, pertama kalinya ku edit pake foto ulzzang. Bagus gak? aku udah pilih yang kira-kira sesuai dengan citranya di FF ini. terakhir, aku harap semuanya tertarik dan responnya bagus.

comment are loved as usual.

Love you all :*

Advertisements

4 thoughts on “Time For Us : Time 1

    1. aah akhirnya berkesempatan kenalan sama kania eonni 🙂
      aku sering liat usernamenya hehe
      aku qL, 93 Line bareng Taemin hehe

      haha, ini udah setahun lebih eon, belum aku tamatin gr2 banyak banget kendalanyaa
      silahkan baca2 FF yang lain dulu eon 🙂

      Like

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s