Eternal

Anyyeoong. this would be a new couple for my blog. enjoy it yaa 🙂

* * *

HyeKi POV

Aku membawa sekotak kardus penuh berisi barang-barang yang akan disumbangkan untuk anak-anak penderita kanker di rumah sakit tempat  JungSoo oppa bekerja. Ya, hari ini ada charity day untuk anak-anak penderita kanker. Kardus yang kubawa terasa cukup berat untukku, mengingat ukurannya yang lumayan besar, isinya yang penuh dan ditambah lagi aku belum sarapan pagi ini. Sambil bergumam kesal, aku membawa kardus itu menuju ruangan tempat pelaksanaan acara yang terletak di lantai 3. Parahnya, liftnya sedang diservis dan aku harus membawanya dengan menggunakan tangga. Awas kau Jungsoo oppa! Enak saja membiarkanku membawa kardus ini sendirian.

Kunaiki tangga itu pelan-pelan sambil mengomel. Setibanya di lantai 2, aku sudah nyaris kehabisan nafas. Tenagaku sudah berkurang drastis dan tanganku sudah kesemutan. Semoga aku masih kuat menuju lantai 3. Tiba-tiba seseorang berjalan lurus ke arahku dan berdiri tepat di depanku. Jarakku dengannya hanya dipisahkan oleh kardus yang ada di pelukan tanganku.

“Buat apa kardus ini?” tanyanya padaku membuatku tergagap menjawabnya.

“Ngg, ini untuk sumbangan anak-anak penderita kanker,” jawabku pelan.

Tiba-tiba dia mengambil alih kardus di tanganku dan membawanya menaiki tangga menuju lantai 3, membuatku bingung, takjub dan kaget.

“Ah, kamsahamnida,” ucapku begitu sadar dari keterkejutan karena ulahnya yang tiba-tiba. Bahkan aku belum mengenalnya. Aku menyusulnya menaiki tangga dan melihat nama yang tercantum dari nametag yang dipakainya. Lee JinKi.

“Kamsahamnida,” ucapku lagi ketika dia meletakkan kardus itu tepat di samping ruangan tempat pelaksanaan acara. Orang itu berbalik menatapku dan tersenyum. aku menghindari tatapannya dan langsung masuk ke dalam ruangan. Tidak sopan memang meninggalkan orang yang baru saja membantumu menggotong kardus itu, tapi tidak nyaman juga terlalu akrab dengan orang yang tidak kau kenal.

Di dalam ruangan, kulihat Jungsoo oppa sedang mengobrol dengan AeRi unnie. Segera kuhampiri mereka, JungSoo oppa harus merasakan pembalasanku.

* * *

JinKi POV

Yeoja yang kutolong itu langsung kabur ke dalam ruangan setelah aku berbalik dan tersenyum padanya. Entah dia yang terlalu pemalu atau aku yang terlalu menakutkan baginya. Aku mengangkat kardus itu, bermaksud membawanya ke ruangan panitia agar digabung dengan paket sumbangan lainnya dan sebuah boneka beruang terjatuh dari dalam kardus. Ada pita yang tergantung di lehernya, bertuliskan Park HyeKi. Buru-buru kumasukkan boneka itu kembali ke dalam kardus dan membawanya ke ruang panitia.

Hanya ada Minho bersama JiHyun di ruang panitia. Mereka sedang memasukkan hadiah-hadiah itu dalam kardus yang lebih kecil untuk dipaketkan.

“Hyung, aku titip nametag ini ya?” ujar Minho, sesama panita charity day kepadaku saat aku akan keluar ruangan. Minho menyerahkan selembar nametag panitia tambahan padaku.

“Punya siapa ini?” tanyaku sambil mengambil nametag itu dan membaca namanya. Park HyeKi.  Nama yang sama, mungkinkah orang yang sama? “Nuguseyo?” tanyaku lagi.

“Dongsaeng dr. JungSoo, dia hoobaeku waktu SMP,” jawab Minho lalu kembali pada pekerjannya bersama JiHyun dan aku melangkah menuju tempat pelaksanaan acara.

Di dalam ruangan, kursi-kursi berderet rapi menghadap panggung. Anak-anak penderita kanker sedang menunjukkan kebolehan mereka bermain musik ketika aku masuk dan mencari-cari dimana dr. Jungsoo atau dongsaengnya duduk. Aku melihat dr. Jungsoo duduk di deretan pertama diapit suster AeRi dan yeoja  yang kutolong tadi pagi. Aku bergegas menghampiri mereka.

“Annyeonghaseyo saengnim,” sapaku pada dr. Jungsoo. Yeoja itu menatapku kaget selama sesaat lalu kembali menatap pertunjukkan di atas panggung.

“Ah, JinKi. Waeyo?” tanya dr. Jungsoo ramah.

“Minho menitipkan nametag dongsaeng anda padaku,” ujarku sambil memberikan nametag itu pada dr. Jungsoo.

“Kamsahamnida,” ucap dr. Jungsoo, lalu berbisik pada yeoja itu. Yeoja itu menoleh, lalu tersenyum kikuk padaku. Aku balas tersenyum, lalu pamit menuju pintu. Yeoja itu membuatku penasaran. Park HyeKi, kau kelihatannya takut padaku, hehe.

* * *

HyeKi POV

Setelah hari charity day itu, aku  jarang mengunjungi rumah sakit tempat Jungsoo oppa bekerja. Hari itu aku mengetahui kalau Jungsoo oppa jadian dengan Aeri unnie, salah satu suster muda di rumah sakit itu, sesama kenalannya saat kuliah dulu. Kalau biasanya aku ke sana dan dimanja, sekarang aku hanya akan menjadi nyamuk di sana. Huh, menyebalkan.

“Aigoo~ kenapa kau melamun, huh?” Sooyan memukul kepalaku dengan sendok es krim yang dipegangnya. Ini pertengahan musim panas dan aku berhasil memaksanya menemaniku makan es krim di kedai Ahjumma langgananku.

“Cish, appoyo,” aku mengusap-usap bekas pukulan Sooyan.

“Eh, hari ini aku mau ke universitas Yesung oppa. Kau mau ikut? Siapa tahu kau bisa bertemu Wookie oppa di sana,” ajak SooYan dengan mata berbinar-binar.

Aku mendengus mendengarnya mengucapkan kalimat terakhir itu. “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Wookie oppa. Kami dekat hanya karena kau dan Yesung oppa jadian,” dengusku kesal.

Sooyan melambaikan tangannya dengan tak sabar.  “Terserah, tapi berkunjung ke sana bukan ide yang buruk kan?” ucap Sooyan membujuk.

Aku mematung sambil mengemut es krim coklat. Sooyan benar, aku memang butuh hiburan. “Kajja,” seruku penuh semangat.

* * *

Seoul National University dipenuhi oleh cukup banyak mahasiswa di pertengahan musim panas ini. Sepertinya sedang ada festival musim panas atau semacamnya di sini. Sooyan mengatakan akan bertemu Yesung oppa di dekat lapangan basket, maka ke sana lah kami pergi sekarang. Di sana sangat ramai, bukan karena menonton pertandingan basket. Tapi karena semacam kompetisi dance sedang diadakan di sana. Berpuluh-puluh yeoja menjerit dan memekik tertahan melihat namja-namja sedang beraksi di tengah lapangan, membuatku berbisik sinis.

“Tebak siapa?” Yesung oppa menutup mata Sooyan dengan kedua telapak tangannya.

“Aish, oppa,” Sooyan menyingkirkan telapak tangan Yesung oppa dari wajahnya dan tersenyum malu.

“Aish, jinja! Dua orang ini menyebalkan sekali,” ucapku keras-keras sambil menatap mereka sinis.

“Haha, jangan iri begitu dong, Hyeki ah,” ejek Yesung oppa sambil menepuk-nepuk kepalaku. Aku menyingkirkan tangan Yesung oppa dari kepalaku dan tiba-tiba suasana yang berisik mendadak bertambah berisik. Sooyan menjadi penasaran dengan apa yang terjadi di tengah lapangan, lalu kami mendekati pinggir lapangan. Lima orang namja dengan kaos berbeda warna berdiri di tengah lapangan bergerak sesuai dengan dentuman musik yang semakin cepat. Aku memicingkan mata di tengah terik matahari, salah satu dari mereka aku kenal, Choi Minho, sunbaeku ketika SMP. Aku masih syok melihat ada Minho sunbae di sini, hingga salah seorang namja yang menari itu menatapku, lalu tersenyum.

MWO? DIA?!

***

Jinki POV

Ini ide gila Taemin. Di tengah musim panas, dongsaengku itu memohon-mohon pada kami agar mengikuti kompetisi dance. Dia sudah gila. Dia kan masih SMA, mana mungkin dia ikut kompetisi dance di kampusku? Tapi dia berhasil membujuk Kibum, Minho dan bahkan Jonghyun untuk ikut kompetisi dance itu.

Maka di sinilah kami, di tengah matahari musim panas, malah ikut kompetisi dance. Yeoja-yeoja yang sejak awal sudah menjerit-jerit, semakin menjerit keras melihat kami menari. Tentu saja, ada lima pria tampan menari di tengah lapangan, itu kata Kibum.

Mataku menyapu sekilas kerumunan yeoja-yeoja itu dan tanpa sengaja aku melihat sosoknya. Yeoja itu Park HyeKi, sedang menatap kami lekat-lekat, matanya membulat ketika melihat Minho. Sepertinya dia kaget. Ketika aku menari di hadapannya, kulemparkan senyumku. Dan ekspresinya semakin bertambah kaget.

We mee again, accidentally…

***

Kali ini ternyata dia tidak kabur lagi setelah melihatku tersenyum padanya, tetapi malah ikut berteriak-teriak seperti kebanyakan yeoja lain saat 6 orang namja menari di tengah lapangan. Aku mendekatinya, penasaran dengan siapa yang diteriaki “Fighting!” oleh dirinya.

“Cho Kyuhyun, fighting!!” teriakannya terdengar cukup jelas di antara pekikan yeoja-yeoja lainnya. Saat itu juga dia mendapat tatapan sinis dari yeoja-yeoja di sampingnya, tapi Hyeki kelihatannya tidak peduli.

Beberapa menit kemudian aksi mereka berakhir. Enam orang namja itu lalu mendekat. Lee Donghae, Kim JongWoon, Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin dan Lee Hyukjae, aku mengabsen mana mereka satu-satu. Semuanya sunbae ku, tentu saja. Mereka berenam kelihatannya sangat akrab dengan Hyeki dan seorang yeoja di samping Hyeki, yang kuprediksikan adalah yeojachingu Yesung sunbae a.ka. Kim Jongwoon. Terlihat jelas, dari cara mereka bergandengan.

Setelah mengobrol, rombongan itu berjalan menjauhi lapangan. Seharusnya aku mengejar mereka atau sekedar menyapa HyeKi, tapi yang kulakukan hanya mematung. Walaupun aku sadar, tidak tahu kapan aku akan bertemu dengannya lagi.

* * *

Pukul 2 siang, matahari masih bersinar dengan teriknya. Aku melangkah cepat menuju perpustakaan, mencari bahan untuk menyelesaikan tugas selama musim panas.  Saking cepatnya, aku tidak sengaja menabrak seorang yeoja. Tidak sampai terjatuh, namun cukup untuk membuat yeoja itu meringis karena bahunya terhantam bahuku.

“Mianhe. Gwenchana?” tanyaku sambil menatapnya khawatir.

“Ah, sedikit sakit, tapi gwenchana,” jawabnya mengusap-usap bahunya lalu menatapku dan aku balas menatapnya. Dan saat itu, kupikir dia akan langsung kabur.

“Ah, neo?” dia menunjukku ragu, “nuguseyo?” tanyanya lagi.

“Lee JinKi imnida, bangeupseumnida,” ucapku sambil mengulurkan tangan. Dia menyambutnya hati-hati.

“Park HyeKi,” katanya pelan. Keurom, aku sudah tahu.

“Sedang apa kau di sini? Sendirian?” tanyaku berbasa-basi, padahal aku tahu persis dia bersama enam sunbae-ku dan seorang yeoja.

“Ehm, aku mau menemui Sooyan dan Yesung oppa di taman, tapi ternyata aku nyasar,” jawabnya sambil nyengir.

“Oh, kuantarkan kalau begitu,” aku berbaik hati menawarkan dan yeoja itu hanya mengangguk. Kami berjalan berdampingan, mengobrol ringan. Aku sama sekali lupa kalau tadi ingin ke perpustakaan.

“Aish, panas sekali,” keluhnya sambil meletakkan telapak tangannya di atas kepala untuk menghalau sinar matahari.

Aku menatapnya kasihan. Tanpa kesadaran penuh, aku melepas topi merah yang kupakai di kepala dan memakaikannya ke kepala HyeKi, membuat yeoja itu tertegun sesaat.

* * *

HyeKi POV

Belakangan ini orang-orang sedang hobi meninggalkanku rupanya. Kali ini setelah menonton kompetisi dance Kyuhyun oppa, Ryeowook oppa, Sungmin oppa, Hyukjae oppa, Donghae oppa dan Yesung oppa bersama Sooyan, mereka malah berpencar-pencar. Sooyan pergi bersama Yesung oppa, sementara yang lain harus mengerjakan tugas mereka.

Aku melamun sambil berjalan dan tak sadar ketika seseorang berjalan cepat ke arahku. Kami menabrak dan aku mengaduh. Bahuku terhantam bahunya. Menyebalkan sekali, ternyata itu orang yang sama yang kutemui di RS tempat Jungsoo oppa bekerja.

“Lee JinKi imnida, bangeupseumnida,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Aku menatap uluran tangan itu, memutuskan berjabat tangan dengan hati-hati.

“Park HyeKi,” kataku pelan. Dia diam saja dan berbicara basa basi denganku, termasuk menawarkan mengantarkan aku menemui Sooyan di taman.

Aku mengeluh lagi, kali ini kepanasan. Dan tiba-tiba Jinki-ssi sudah memakaikan topinya di kepalaku, membuatku tertegun sesaat. Kusentuh topi itu pelan.

“Ah, Jinki-ssi, ini … “ aku bicara terbata-bata sambil menunjuk topi itu. Bingung harus berkata apa.

“Sudah, pakai saja,” ujarnya santai sambil merapikan rambutnya.

“Tapi …” bantahku membuatnya menoleh penasaran. “Tapi topi ini kebesaran,” ujarku pelan, takut dia tersinggung. Kuangkat topi itu, lalu kujatuhkan lagi ke kepalaku. Kepalaku langsung masuk ke dalam lingkaran topi, terbenam jauh ke dalam, menutupi dahiku.

Jinki-ssi tertawa. “Yang penting kan kau tidak kepanasan,” uajrnya ringan.

Aku hanya manggut-manggut. Kami berjalan pelan menuju taman. Tidak ada tanda-tanda Sooyan dan Yesung oppa sudah berada di taman. Kuambil handphone dan menelepon Sooyan.

“Yobseyo?” ujarku di telepon.

“…”

“Mwo? Ara, ara, akan kutunggu.”

“..”

“Ne, arraseo. Ne..”

“..”

Trek. Telepon ditutup. Dasar menyebalkan! Ternyata mereka masih menuju taman. Aku menggerutu dan melupakan bahwa Jinki-ssi masih di situ.

“Wae? Temanmu belum di sini?” tanya Jinki penasaran.

Aku menggeleng.

“Kalau kau kutinggal, tidak apa-apa kan?” dia bertanya pelan.

“Tentu saja tidak apa-apa,” jawabku cepat.

“Baiklah, aku pergi dulu,” pamit Jinki. Aku mengangguk dan Jinki berjalan pergi.

“Jinki-ssi, tapi topimu?” pertanyaanku menghentikan langkahnya.

“Tak apa-apa. Simpan saja padamu,” ujarnya sambil melangkah kembali ke arahku. “Mulai sekarang kita berteman, panggil saja aku Jinki oppa, arraseo?”

Aku tertegun lagi. “Ne, arraseoyo,” jawabku akhirnya dan Jinki-ssi, ani Jinki oppa, berjalan pergi.

Will we get along well?

-TBC-

comment and like are pleased,, hehe

Advertisements

2 thoughts on “Eternal

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s