Childhood Friends Series : Chapter 3

Pembukaannya pendek aja, HAPPY READING ALL!!

* * *

Chapter 3 #Unforgivable Mistake (Special Flashback )

“Aku bosan,” ucap DongHae kecil berusia 7 tahun itu dan menjauhi benteng yang sudah disusunnya dari balok-balok mainan.

“HyeKi~ya, ayo main,” ajak DongHae kecil  pada HyeKi kecil yang seumuran dengannya yang sedang duduk di ayunan sambil membaca buku dongengnya.

Mereka sedang berada di taman di rumah HyeKi.

“Shireo. Main saja dengan teman-temanmu yang lain,” tolak HyeKi ketus sambil terus membaca buku.

DongHae mengambil buku dongeng itu dan membawanya kabur.

“Ya! Lee Donghae nakal! Bukuku!” teriak HyeKi kesal.

“Ayo, main dulu, setelah itu baru baca buku lagi,” pinta DongHae. “Baca buku bisa kapan saja, tapi bermain denganmu, mungkin ini yang terakhir,” tambahnya lagi dengan raut wajah yang hampir menangis.

HyeKi merasa aneh dengan kata-kata terakhir DongHae, tapi dia mengabaikannya. “Cengeng,” celetuk HyeKi kecil. “Kau mau main apa?”

“Petak umpet,” jawab DongHae cepat.

“Baiklah, sekarang kita main gunting kertas batu, siapa yang kalah dia yang jaga,” ujar HyeKi.

Ternyata HyeKi yang harus jaga dan DongHae bersembunyi.

“Aku hitung sampai seratus yaa. dan jangan jauh-jauh sembunyinya,” teriak HyeKi. Setelah menghitung sampai 100, HyeKi mulai mencari dimana tempat persembunyian  DongHae. Namun dicari di mana pun, DongHae tidak ada. HyeKi ketakutan, lalu menangis sambil memanggil nama DongHae.

“Eomma, aku tidak bisa menemukan DongHae,” lapornya sambil menangis pada Ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah bersama kakak perempuannya, In Young.

“DongHae? Tadi dia bertanya jam berapa sekarang pada Eomma, lalu terburu-buru pergi. Katanya dia mau ke taman kompleks,” jawab Ibunya sambil mengusap air mata putri bungsunya. Sementara sang kakak tertawa.

HyeKi berlari ke taman kompleks dan di sana dia melihat kakak laki-lakinya dan kakak laki-laki DongHae sedang bermain basket.

“Oppa, apa kau lihat DongHae?” tanya bocah itu pada kedua anak laki-laki itu. Mereka berdua terdiam lalu menggeleng. Kakak laki-laki HyeKi, JungSoo, menyadari bahwa HyeKi baru saja menangis karenan bekas air matanya masih jelas terlihat.

“HyeKi~ya, kau menangis?” tanyanya khawatir, tapi HyeKi sudah berlari lagi menuju sisi lain taman yang berbentuk lingkaran itu.

Dan tepat saat itu dia melihat Lee DongHae bersama seorang anak perempuan yang mengenggam sekeranjang penuh bunga. Tiba-tiba dia merasa kesal, karena ditinggalkan begitu saja saat main petak umpet dan ternyata DongHae sedang bermain dengan anak perempuan lain. Ini bukan pertama kalinya DongHae meninggalkannya saat bermain. HyeKi benci itu.

HyeKi berlari pulang dalam keadaan marah. Tanpa sengaja dia tersandung salah satu pembatas jalan setapak, membuat DongHae dan anak perempuan itu menyadari ada dirinya di sana. Sebelum DongHae bisa mendekatinya, HyeKi segera berlari lagi sambil menahan rasa perih di lutut dan telapak tangannnya. Dan sialnya dia kembali menabrak seseorang yang tak lain adalah kakak laki-lakinya sendiri.

“HyeKi~ya, wae? Kenapa kau bisa berdarah begini?” tanya JungSoo panik. Tiba-tiba tangisan HyeKi kecil pecah, karena kesal akibat ulah DongHae sekaligus karena perih di lutut dan telapak tangannya yang berdarah.

JungSoo sibuk menenangkan HyeKi kecil dan saat itu DongHae kecil tiba di tempat yang sama.

“HyeKi~ya, kenapa tadi kau lari saat melihatku?” tanya DongHae.

HyeKi merengut. “Oppa, ayo pulang, lutut dan telapak tanganku sakit,” rengeknya pada kakak laki-lakinya. JungSoo mengangguk, lalu menggendong bocah itu di punggungnya dan membawanya pulang. DongHae mengikuti di belakang sambil mengajak HyeKi bicara. HyeKi hanya merengut dan tidak menggubrisnya sama sekali.

“HyeKi~ya, kenapa kau mengacuhkanku?” tanya DongHae.

“Aku benci pada Lee DongHae,” teriak HyeKi, sambil menyembunyikan wajahnya pada punggung kakak laki-lakinya.

DongHae tertegun sementara HyeKi dan JungSoo menghilang ke dalam rumah mereka.

* * *

Dua hari berikutnya, HyeKi kecil dan DongHae kecil tidak pernah bermain bersama lagi. HyeKi masih menolak bicara pada DongHae.

“HyeKi~ya, DongHae akan pergi hari ini. Kau masih tidak mau bicara dengannya?” tanya kakak perempuannya lembut.

“Jinja? DongHae akan pergi kemana?” tanya HyeKi  kaget.

“Dia akan pindah ke Mokpo. Dia ada di depan kamarmu sekarang,” jawab In-Young.

“Aku tidak mau ketemu. Lee DongHae jahat! Dia bilang akan terus bersamaku. Kemarin dia meninggalkan aku sendiri saat bermain, sekarang dia mau pergi jauh. DongHae jahat! DongHae pembohong! Aku benci Lee DongHae!!!” HyeKi menangis di dalam pelukan kakak perempuannya.

Dan DongHae kecil yang berdiri di depan pintu kamarnya juga ikut menangis. “Mianhe HyeKi~ya,” ujarnya serak.

InYoung keluar dari kamar HyeKi, kemudian berkata, “Pergilah DongHae~ya. HyeKi susah sekali dibujuk kalau sedang ngambek, akan aku sampaikan salammu untuknya.”

DongHae kecil imengangguk. “Ne, noona. Kamsahamnida, aku titip ini untuk HyeKi ya,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna biru pada In Young. In Young mengangguk, lalu mengantar DongHae kepada keluarganya, yang sudah siap berangkat.

Sementara itu dari kamarnya di lantai dua, HyeKi menatap DongHae dan keluarganya yang akan segera berangkat. Setengah hatinya merasa kesal dan setengahnya lagi merasa sedih. Dia berharap DongHae akan menatap ke arah jendela kamarnya. Tapi, kenyataannya tidak. DongHae tidak menoleh sama sekali dan langsung menaiki mobil. HyeKi tiba-tiba merasa marah, DongHae sudah jahat padanya, tapi dia sama sekali tidak berusaha menoleh untuk terakhir kalinya. Satu-satunya teman terbaik yang HyeKi miliki saat umurnya 7 tahun meninggalkannya begitu saja, tanpa penjelasan. Menurut HyeKi, kesalahan DongHae tidak bisa dimaafkan. DongHae terlalu mengecewakannnya. HyeKi bertekad mulai sekarang dia akan membencinya. Dia akan menghapus DongHae dalam ingatannya.

Tapi HyeKi sama sekali tak tahu alasan DongHae tidak menoleh lagi ke jendela kamar HyeKi. DongHae merasa berat meninggalkan temannya. Menoleh ke belakang akan memperparah ketidakrelaannya untuk pindah ke Mokpo. Dia berpikir bahwa tidak menoleh adalah cara terbaik. Lagipula dia sudah meninggalkan surat penjelasan dalam kotak biru yang diberikan pada In Young noona. Namun, sayang sekali. Kesalahpahaman ini berurat akar, sebab HyeKi tidak pernah mau membuka kotak biru itu, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian.

-TBC-

pHUIF!! Kerja ngebut semalaman, ngerjain langsung 2 part Childhood Friends Series.

Pasti banyak yg kaget, lho kok masalahnya si Donghae sama HyeKi sepele bgt sih? Haha, aku juga mikirnya ini sepele kok, tapi kalau dilihat dari sudut pandang anak-anak, ini udah jadi masalah yang cukup besar. Terus setting FF ini adalah di kala HyeKi dan Donghae berumur 7 tahun, kira-kira kalau sekarang mereka umurnya 17 tahun lah #ingat, donghae di sini adalah OOC (out of character). 

Ide masalah ini sebenarnya adalah gabungan dari mimpi-mimpi gak jelas aku, ditambah terinspirasi dari resensi sebuah novel, kalau gak salah judulnya 1, 2, 3 .. udah belum?” #mian, rada2 lupa juga judulnya, kk~ . aku cuma terinspirasi petak umpetnya kok, selebihnya aku ngarang sendiri, hehe. Mianhe klo gaje.

Aish, penutupannya menyaingi FF nih, haha. oke, bai bai.

Thanks for reading 🙂 #cups

*This post is protected by ©qL_fiction*

Advertisements

One thought on “Childhood Friends Series : Chapter 3

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s