Hide!! – Chapter 2

Halohaaa. Hide!! series rilis lagi. Enjoy it!!

* * *

Chapter 2 : The Next person!

“Baru satu, masih tersisa empat…”

“Saya mengerti, Tuan.”

“Laksanakan dengan baik. Aku yakin semua berjalan dengan lancar..”

“Baik, akan segera dilaksanakan Tuan.”

Bunyi pintu yang ditutup terdengar. Lelaki itu menatap 5 foto di atas meja, sementara bawahannya telah meninggalkan ruangannya.

Sudah dimulai… segalanya sudah dimulai..

* * *

Kyuhyun tahu dia tidak bisa pulang ke rumah sekarang. Orangtuanya akan curiga kalau dia kembali tanpa Minrin. Maka dia mengirimkan sms kepada Ibunya, berkata bahwa mereka memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kota dan ibunya tidak perlu khawatir. Setelah meyakinkan ibunya, Kyuhyun memutuskan dia harus mencari Dennis. Orang yang menculik Minrin, Kyuhyun yakin pasti bukan orang sembarangan. Dalam sekejap dia berhasil mengambil Minrin yang saat itu masih dalam jangkauan Kyuhyun. Kyuhyun yakin dia butuh bantuan Dennis. Kyuhyun kesal, merasa dirinya kecolongan.

Diliriknya arloji pemberian Minrin di pergelangan tangannya. Pukul 03. 23 PM KST. Belum terlalu sore untuk memulai pencarian sesegera mungkin. Dia membuka database FBI di iPhone-nya, mencari alamat rumah Dennis di korea. Dalam beberapa menit saja, Kyuhyun langsung mendapatkan datanya dan berangkat ke sana.

“Nuguseyo?” Seorang yeoja membukakan pintu rumah yang menurut data adalah rumah Dennis.

“Aku ingin bertemu Dennis Park, bisakah?” tanya Kyuhyun langsung.

“Dennis? Ah, sebentar. Silahkan masuk, kau siapa?” tanya yeoja itu.

“Namaku Cho Kyuhyun,” jawab Kyuhyun.

“Tunggu sebentar, aku kan memanggilkan oppa. Kau ingin minum apa?” tanya yeoja itu lagi.

“Terserah,” jawab Kyuhyun sambil duduk di sofa ruang keluarga itu.

“El, aku mendengar ada yang datang dan…” kata-kata Dennis terpotong saat melihat Kyuhyun di ruang keluarga.

“Kyuhyun ah?” sapa Dennis tidak mempercayai matanya.

“Hyung! Syukurlah,” Kyuhyun memeluk Dennis dan saat itu yeoja itu kembali ke ruang keluarga sambil membawa nampan berisi camilan dan minuman.

“El, tolong tinggalkan kami berdua,” pinta Dennis pada yeoja itu, Amelia.

Amelia mengangguk dan bergegas menuju kamarnya. Kyuhyun memandang Amelia dengan bingung.

“Siapa dia hyung?” tanya Kyuhyun.

“Adikku, Amelia,” jawab Dennis pelan.

Seketika itu juga Kyuhyun langsung mengerti, gadis yang dilihatnya di taman bersama Dennis itu adalah Amelia. “Tapi aku merasa pernah melihatnya?”

“Kasus pembunuhan dua tahun yang lalu kalau kau lupa,” jawab Dennis. Dua tahun yang lalu, Kyuhyun juga terlibat dalam kasus yang sama yang menggunakan Amelia sebagai dokter forensiknya. “Lalu ada masalah apa?”

“Tunanganku diculik dan orang itu mengancamku,” jawab Kyuhyun cepat sambil menyerahkan kertas kecil yang berisi ancaman ke tangan Dennis. “Aku sudah memastikan tidak ada orang yang mengikutiku sampai di rumahmu.”

“Pertanyaannya adalah apa yang diinginkan darimu? Ancaman jelas menyebutkan bahwa akan ada tindakan lain sesudah ini,” ujar Dennis.

“Aku tak tahu, hyung,” jawab Kyuhyun pelan. Berusaha berpikir.

“Sulit sekali menemukan benang merah dengan petunjuk yang sedikit,” gumam Dennis.

* * *

Sandra menggandeng tangan Harry dengan perasaan bahagia. Sudah lama dia tidak bergadengan bersama Harry tanpa ada yang menganggu. Tanpa status FBI Harry dan tanpa telepon-telepon mengenai pekerjaannya. Mereka baru saja selesai makan malam dan sekarang sedang menuju parkiran mobil.

Parkiran mobil itu terletak di basement, sepi dan agak remang-remang. Beberapa orang berpakaian hitam mengikuti langkah mereka. Harry membisikkan perintah berlari pada Sandra dan mereka berlari menuju mobil sambil dikejar oleh orang-orang berpakaian hitam tersebut.

Desingan peluru nyaris mengenai Sandra, kalau Harry tidak menariknya untuk tiarap di dekat salah satu mobil. Pistol berperedam suara, batin Harry. Ada yang mengincar mereka saat ini. Peluru-peluru berikutnya menghantam badan mobil yang melindungi mereka. Harry menarik keluar pistolnya, lalu mengarahkannya kepada para penembak. Diliriknya keadaan sekitar, jarak mereka dengan mobilnya hanya kurang dari 2 meter lagi. Harry menatap Sandra yang sedikit shock, namun masih bisa menguasai diri.

“Sandra, are you okay?” tanyanya pelan. Tembakan itu memecahkan kaca mobil sekarang.

Sandra mengangguk cepat, maka Harry melanjutkan ucapannya. “Now, we run to our car, are you ready?” Sandra mengangguk lagi.

Harry mengenggam tangan Sandra, lalu menariknya mendekati mobil mereka sambil tetap menembak orang-orang tidak dikenal itu. Satu dua orang roboh terkena tembakan Harry yang akurat, sisanya mulai menembak dengan liar. Harry dan Sandra sudah tepat berada di depan mobil saat tiba-tiba salah satu orang berpakaian hitam itu memukulnya. Harry melawan dan balas memukul, sambil mendorong Sandra agar masuk ke mobil. Tapi orang itu ternyata sama kuatnya dengan dirinya. Saat Harry lengah, dia menusukkan pisau ke perut kanan Harry. Harry mengerang dan menendang orang itu hingga dia pingsan. Sisa-sisa orang berpakaian hitam mulai kembali menyerang mobil Harry, membuat Sandra panik.

Harry bergegas masuk ke mobil, menyuruh Sandra menyetir, sementara dia balas menembak. Sandra menyetir dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan basement yang porak-poranda itu.

“Harry, kau terluka, apa yang harus kulakukan?” Sandra nyaris menangis melihat luka tusukan di perut kanan Harry.

“Bawa aku ke rumah Dennis Park,” jawab Harry sambil menahan rasa sakit. Dia kemudian menyebutkan alamat rumah Dennis dan Sandra menyetir dengan terburu-buru menuju rumah Dennis.

* * *

“Oppa, makan malamnya sudah siap,” teriak Amelia dari dapur.

Dennis mengangguk, walaupun Amelia tidak bisa melihat anggukannya dan mengajak Kyuhyun ke ruang makan.

“Kau akan menginap di sini, Kyuhyun-ssi?” tanya Amelia di sela-sela makan malam.

“Ne, aku ada urusan sedikit dengan Oppa-mu,” jawab Kyuhyun.

Amelia terdiam dan memandang Kyuhyun lekat-lekat, membuat namja itu salah tingkah.

“Waeyo El?” tanya Dennis.

“Aniyo. Sepertinya kita pernah bertemu,” jawab Amelia lambat-lambat sambil tetap menatap wajah Kyuhyun.

“Aaah, kasus pembunuhan dua tahun yang lalu. Kau dokter forensiknya dan aku tersangkanya,” jawab Kyuhyun enteng.

“MWO?! T-ter-tersangka?” tanya Amelia sambil menatap Dennis tak percaya.

Sebelum Dennis bisa menjawab, bel pintu berbunyi. Dalam sekejap Kyuhyun dan Dennis langsung bersiaga. Amelia bergerak menuju pintu untuk membukanya dan Dennis mengikutinya dari belakang. Tangannya sudah mengenggam pistol.

Amelia membuka pintu dan tercengang kaget. Bukan karena siapa yang datang, dia sama sekali tidak mengenal siapa tamunya malam itu, tapi salah seorang tamunya terluka. Darah merembes mengotori kemeja yang dikenakannya.

Dennis segera mendekat setelah mendengar pekik kaget Amelia dan detik itu juga dia mengenal siapa yang datang, Harry Dilton dan Sandra Brown. Buru-buru dipersilahkannya dua tamu itu untuk masuk dan membaringkan Harry yang nyaris kehilangan kesadarannya di sofa ruang tengah. Kyuhyun yang sedari tadi hanya berdiri tercengang melihat luka di perut Harry.

“Apa yang terjadi?” tanya Dennis pada Sandra.

I don’t know. Unknown people chased us and we run. Mereka menembak dan Harry juga balas menembak. Saat kami akan kabur, salah satu dari mereka menghadang dan menusuk Harry dengan pisaunya. Beruntung Harry masih bisa melawan dan membunuh orang itu. Dia menyebutkan alamat rumahmu dan aku menyetir kemari,” ujar Sandra menjelaskan. Matanya tak lepas dari Harry yang terus mengerang. Luka tusukan itu seakan menyiksanya. Sandra menggenggam tangan Harry panik.

Do something,” rintihnya pada Dennis.

“Rumah sakit?” tawar Kyuhyun.

Dennis menggeleng. “Terlalu beresiko,” jawabnya, lalu memandang Amelia yang masih terpaku menatap Harry. “Kau bisa menolongnya kan, El?” tanyanya lembut.

“Hah? Aku?” Amelia tersentak kaget.

“Kau seorang dokter, kau harus bisa,” tambah Dennis sambil tersenyum.

Amelia menghela nafas, lalu berjalan menuju salah satu ruangan. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa sekotak peralatan medis. Dia menyuruh Kyuhyun, Sandra dan Dennis yang mengerumuni Harry agar menjauh, lalu memeriksa denyut nadi Harry.

“Denyutnya lemah, dia kehilangan banyak darah, aku harus menjahit lukanya untuk menghentikan pendarahan,” ujar Amelia tegang. “Oppa, kau jadi asistenku,” tunjuknya pada Dennis. Amelia menuju wastafel di dekat toilet, mengikat rambutnya tinggi-tinggi, lalu mencuci tangannya dengan sabun antiseptik. Setelah itu dia kembali ke ruang keluarga, memakai masker dan sarung tangan.

Bantalan sofa sudah dilebarkan menyerupai tempat tidur (sofa di ruang tengah itu memang bisa dipakai sebagai tempat tidur lipat). Dia memasangkan infus dan kantong darah, lalu menusukkan jarumnya ke nadi di lipatan siku Harry. Wajahnya benar-benar tegang.

Dennis membantunya membuka kemeja Harry yang berlumuran darah dan Amelia membersihkan daerah tersebut dengan menggunakan alkohol. Diambilnya jarum suntik, lalu mulai menyuntikkan anastesi ke nadi Harry. Dan operasi kecil dimulai.

Luka tusukan itu pendek, tapi agak dalam. Amelia mulai mengambil jarum operasi, tangan kirinya memegang needle holder, lalu mulai menjahit. Jahitannya pendek dan rapat, semakin lama lukanya semakin tertutup. Dan di jahitan kelima, Amelia mengikat simpulnya dan mengguntingnya. Operasi kecil itu selesai.

Amelia terengah, peluh memenuhi dahinya. Dia benar-benar tegang, ini operasi pertamanya di luar ruang operasi yang normal. Dibukanya sarung tangan yang penuh darah itu dan dibuangnya ke tempat sampah bertuliskan “Medis” di dapur. Dennis mengikutinya, juga membuang sarung tangannya ke tempat sampah.

“Aku pikir tempat sampah ini tidak akan pernah digunakan, ternyata aku salah,” dengus Amelia pada Dennis. Dennis hanya terkekeh mendengar ucapan Amelia.

Mereka kembali ke ruang tengah. Amelia mengecek denyut nadi Harry.

“Denyutnya mulai normal, tapi mungkin dia belum sadar sampai beberapa jam ke depan,” ujarnya, lebih kepada Sandra sebetulnya, karena kekasih Harry itu wajahnya sudah pucat karena ketakutan.

Amelia beralih menatap Kyuhyun dan Dennis yang sekarang sedang berbisik-bisik seru. “Oppa, kau berhutang penjelasan padaku. Kita harus bicara,” Amelia menyeret Dennis ke dapur.

“Jelaskan padaku tentang semua ini. Kau berteman dengan tersangka Oppa? Lalu dalam semalam kita dikunjungi oleh dua orang asing dan salah satunya terluka? Apa ini ada kaitannya dengan pekerjaanmu? Kau seorang mafia ya?” Amelia menyerang Dennis dengan bertubi-tubi pertanyaan. Dennis mati-matian menahan tawanya.

“Dengarkan baik-baik, El. Kyuhyun itu hanya tersangka, dia tidak punya catatan kriminal apa pun. Yang kau sebut orang asing itu temanku di kantor, yang laki-laki bernama Harry Dilton dan yang wanita bernama Sandra Brown. Dua-duanya warga London asli, aku juga tidak tahu apa yang membawa mereka ke Seoul dan bagaimana caranya Harry bisa terluka. Dan aku bukan seorang mafia, paham?” jawab Dennis sambil terkekeh geli.

“Tidak lucu. Jadi kantor apa yang kaumaksud Oppa? Jelaskan,” tekan Amelia lagi.

Dennis tertegun. Apakah ini saat yang tepat untuk memberitahu Amelia tentang identitasnya? Dennis membuang pandangannya menuju jendela dapur dan sekilas dia melihat ada yang aneh dengan jendela itu. Dennis mendekati jendela dan melihat sebuah microchip terpasang di kusennya, nyaris tidak akan terlihat jika tidak diperhatikan baik-baik. Dennis menyambar pergelangan tangan Amelia dan membawanya kembali ke ruang keluarga, mengabaikan protes Amelia yang bingung dengan tindakannya.

“Kyuhyun, hubungi Sungmin, tanyakan apakah apartemen ‘itu’ masih bisa kita huni? Lalu ini,” Dennis melemparkan microchip itu dan ditangkap Kyuhyun, “lacak siapa pemiliknya, mungkin kita bisa dapat petunjuk. Dan kau, El, ambil mantelmu yang berwarna gelap, lalu duduk manis di sebelah Kyuhyun. Setelah Harry sadar, kita akan segera pergi dari sini, aku akan bersiap-siap,” ujar Dennis mengakhiri kalimat perintahnya dan menuju kamarnya.

Amelia bersungut-sungut menuju kamar, mengambil dua mantel berwarna hitam, kembali ke ruang keluarga dan memberikan salah satu mantel pada Sandra yang dibalas dengan gumaman terima kasih dari gadis blonde itu.  Amelia duduk di sebelah Kyuhyun yang sudah menyambungkan iPhone-nya dengan Macbook. Kyuhyun lalu mengetikkan sesuatu dengan kecepatan luar biasa dan kode-kode rumit yang tidak pernah dilihat Amelia sebelumnya.

Got it,” desisnya senang, lalu ekspresinya berubah muram. “Hyung, mereka yang menyadapmu menggunakan microchip ini berada 1 blok dari rumahmu, kelihatannya mereka belum sadar salah satu microchip itu sudah dinonaktifkan,” lapor Kyuhyun pada Dennis.

Dennis tiba-tiba muncul di ruang keluarga sambil membawa beberapa benda kecil yang disebut microchip itu. “Aku menemukan lima lagi di seluruh penjuru rumah, coba cek berapa lagi yang tersisa,” perintah Dennis lagi.

Kyuhyun mengangguk, lalu mulai mengetikkan kode-kode rumit itu lagi. “Tidak ada, semua bersih hyung. Aku sudah mengkamuflase programnya, jadi mereka akan berpikir microchip itu masih ada di tempatnya,” tambah Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari Macbook.

“Bagus dan ini,” Dennis melemparkan sebuah pistol kepada Kyuhyun. “Kita akan segera berangkat,” tambahnya.

Amelia yang kesal melihat tingkah Dennis dan Kyuhyun menatap Sandra, berharap gadis itu akan protes seperti dirinya. Tapi Sandra tenang-tenang saja, seolah hanya peduli pada keselamatan Harry seorang atau … jangan-jangan dia sudah cukup terbiasa dengan semua ini? Amelia semakin kesal dan tidak dapat menahan diri lagi. “Omong kosong apa ini? Bagaiamana mungkin kalian bermain-main dengan senjata api, itu tidak lucu Oppa,” teriaknya frustasi.

“Ini tidak main-main El,” Dennis menenangkan Amelia, “kami…” ucapan Dennis menggantung. Amelia menatap Dennis, Sandra dan Kyuhyun bergantian.

“Kami FBI,” lanjut Kyuhyun pelan sambil memutar pistol di tangannya.

Amelia tercengang kaget. “Impossible,” rutuknya pelan.

* * *

“Gagal?” suara laki-laki itu tenang, namun terkesan berbahaya.

“Maafkan kami, Tuan. Ada kesalahan dalam rencana kami,” bawahannya menjawab dengan perasaan takut.

“Aku tidak bisa memaafkan, kalian tahu itu,” jawab sang Tuan dengan dingin.

Bawahannya tidak ada yang berkomentar.

“Kuberi kalian satu kesempatan lagi. Bawa kelemapt-empatnya ke hadapanku. Dan ingat, aku tidak ingin mendengar kata gagal,” perintahnya kasar.

“Baik, Tuan.”

“Sekarang pergi!” usirnya pada bawahannya. Para bawahan kembali meninggalkan ruangan itu. Sementara sosok yang dipanggil Tuan itu menatap ke arah Minrin yang kini terikat lemah di kursi di sudut ruangan.

“Pikirkan kesalahanmu Nona Muda. Dan jangan khawatir, teman-temanmu akan segera berkumpul di sini,” bisiknya kejam

TBC-

Haah, akhirnya selesai juga chapter yg ini. Komennya dong, komennya, hehe

Penuh perjuangan bgt nih bikinnya, terinspirasi abis nonton Athena dan City Hunter, kk~

Sampai ketemu di next part!!

*This post is protected by ©qL_fiction*

Advertisements

2 thoughts on “Hide!! – Chapter 2

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s