HIDE!! – Chapter 1

Haloo.. Ini chapter 1, lanjutan dari Teaser yg kemaren, hehe. semoga tidak pusing bacanya, kk~ Chapter selanjutnya akan semakin pendek kok.

Enjoy it!

* * *

Hide!! #Chapter 1 – Start from You!

Amelia hanya menatap kakaknya yang sedang melahap makan malam buatan Han ahjumma dengan penuh semangat.

“Ya! Jangan menatapku seperti itu El,” kata Dennis sambil melanjutkan makannya. El memang nama panggilan Amelia, hanya Dennis yang memanggilnya seperti itu.

Amelia hanya geleng-geleng kepala. “Cara oppa makan benar-benar seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari,” omelnya pada sang kakak.

Dennis hanya nyengir. Tapi memang benar sih, dia belum makan sejak dua hari yang lalu. Kasus yang terakhir diurusnya membuatnya nyaris tidak sempat memperhatikan diri sendiri.

“Aku tidak tahu kau tidak tinggal bersama Appa dan Eomma lagi,” kata Dennis mengalihkan pembicaraan.

“Kau menghilang selama setahun Oppa, bagaimana caranya aku memberitahumu,” gerutu Amelia. “Ya, Appa dan Eomma memutuskan kembali ke Indonesia dua hari yang lalu. Sejak itu aku tinggal sendiri di rumah ini. Han ahjumma setidaknya membantu membereskan rumah sampai aku pulang dari klinik,” jelasnya pada Dennis.

Belum sempat Dennis berkomentar, Han ahjumma sudah muncul dan pamit pulang ke rumahnya. Amelia mengantarkan Han ahjumma ke pintu depan, lalu kembali menemani Dennis yang ternyata sudah menyelesaikan makan malamnya.

“Kau tidak takut sendirian di sini?” tanya Dennis saat Amelia sedang mencuci piring.

“Jangan bodoh, oppa. Aku kan baru tinggal sendiri selama dua hari,” jawab Amelia ringan.”Lagipula aku sudah berniat akan pindah ke Indonesia juga,” tambahnya pada Dennis.

“Hee? Wae?” tanya Dennis kaget.

“Aku menyerah oppa. Pekerjaan sebagai dokter forensik ini membuatku gila,” jawab Amelia pelan.

Dennis menatap adiknya dengan perasaan kasihan. “Apa ada yang mengancammu?” tanyanya.

“Belum. Tapi aku yakin cepat atau lambat pasti akan ada,” Amelia menjawab dengan putus asa. “Aku ingin bekerja di rumah sakit saja.”

Dennis merasa bersalah pada adiknya. Karena Dennis lah, Amelia beralih profesi menjadi dokteri gigi forensik. Kejeniusan adiknya sangat dibutuhkan untuk analisa TKP dan korban. Dua tahun yang lalu, saat Amelia baru saja lulus, Dennis tiba-tiba menghadapi kasus pembunuhan di Seoul. Keterbatasan SDM mengharuskannya menggunakan Amelia dalam analisis TKP. Awalnya Dennis ragu, tapi ternyata analisis Amelia akurat sesuai hasil laboratorium. Maka kepolisian pun menawarkan pekerjaan sebagai dokter forensik pada Amelia. Dennis tidak tahu adiknya akan terbeban seperti ini.

Amelia selesai mencuci piring, lalu menatap kakak laki-lakinya yang sedang melamun. “Oppa..” panggilnya.

“Ah, ne?” Dennis tersadar dari lamunannya.

“Kenapa Oppa pulang?” tanya Amelia pendek.

Dennis hanya tersenyum tipis. Dia sudah menduga akan ditanyai begitu. “Aku sedang cuti,” jawabnya.

“Berapa lama?”

“Why? Kau tidak senang Oppa di rumah?”

Amelia hanya terkekah mendengar ucapan Oppanya. “Sejak kapan oppa jadi sensitif begitu?” tanyanya sambil beranjak menuju ruang tengah. Dennis mengikutinya.

“Kalau aku bilang aku akan jadi pengawalmu selama setahun, bagaimana?” tanya Dennis lagi.

“Hee? Setahun? Oppa cuti selama itu?” pekik Amelia kaget.

“Memangnya kenapa?” tanya Dennis penasaran.

“Mana ada kantor yang memberikan cuti selama itu,” sungut Amelia.

“Kantorku bukan ‘kantor biasa’ El,” jawab Dennis pelan. Dennis memang belum jujur pada Amelia tentang pekerjaannya. Dalam kasus dua tahun yang lalu pun, Amelia hanya tahu Dennis membutuhkan jasanya untuk membantu temannya di kepolisian Seoul.

“Aish, oppa.. Lagipula umurmu kan sudah mau kepala 3, bagaimana kalau cuti sepanjang itu dihabiskan untuk mencari calon istri saja. Sudah saatnya kau menyempurnakan agamamu,” kata Amelia penuh semangat.

“Huh, lupakan. Aku belum mau pensiun,” kata Dennis sambil meraih remote TV dan mengganti salurannya menjadi saluran berita.

“Pekerjaan macam apa yang tidak membolehkan sesorang menikah,” gerutu Amelia. “Tinggalkan saja pekerjaan itu oppa, Oppa kan pintar, pasti mudah mendapat pekerjaan baru,” tambahnya.

“Itu yang dinamakan amanah, El. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja,” jawab Dennis pelan. Lalu perhatian mereka dialihkan pada sebuah pemberitaan mengenai kebakaran gedung yang terjadi di pinggiran kota Seoul beberapa jam yang lalu.

Sementara itu, di Seoul International Hospital, seorang pria sedang menonton siaran berita yang sama yang ditonton Amelia dan Dennis Park. Di tempat tidur ruang rawat itu, terbaring seorang wanta cantik yang kelihatannya sedang tertidur. Wanita itu bergerak beberapa kali, kemudian terbangun dengan kaget saat melihat pria itu di kamarnya.

“Hei, kau sudah sadar?” tanya pria itu saat melihat wanita itu terbelalak kaget.

“Kau… Harry?” wanita itu balas bertanya.

Pria yang dipanggil Harry itu tersenyum. “Hai Sandra,” sapanya.

“Harry,” pekik Sandra senang. Dia memeluk Harry kuat-kuat dengan perasaan gembira.

“Ouch, Sandra. Kau kan masih sakit,” kata Harry berusaha melepaskan pelukan Sandra.

“Maaf,” gumam Sandra malu. “Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi,” tambahnya.

Harry hanya tersenyum, lalu kembali menatap layar televisi.

“Kau sedang menonton apa?” tanya Sandra ikut memperhatikan televisi. Gambaran mengerikan sebuah gedung yang terbakar langsung mengingatkannya pada kejadian yang baru dialaminya.

“I-itu.. kebakaran yang kualami?” tanya Sandra lagi. Tubuhnya bergetar mengingat trauma yang dialaminya beberapa jam yang lalu.

“Ya,” jawab Harry singkat.

“Kau.. yang menyelamatkanku?” Sandra menatap Harry lekat-lekat.

Harry hanya mengangguk.

“What? Bagaimana mungkin kau tahu aku sedang disitu?” pekik Sandra kaget.

“Kau lupa siapa aku dan apa pekerjaanku? Lagipula aku sudah berjanji padamu, aku akan selau menjagamu, walaupun kau bukan milikku lagi,” Harry menjawab tanpa memandang Sandra.

Sandra hanya terdiam.

“Lagipula sedang apa kau disini? Ini Seoul, miss Brown. Bukan London,” ujar Harry. Kali ini dia menatap Sandra, seakan sedang menginterograsinya.

“Aku bertemu klien,” jawab Sandra pelan.

 “Ooh, kau masih saja sibuk mengurusi perusahanmu ya?”

Sandra hanya menatap Harry. “Kenapa kau menyelamatkanku?”

“Jadi kau lebih suka mati terbunuh dalam kebakaran itu, huh?”

Sandra hanya diam. Dia tahu benar watak Harry. Harry mudah terpancing emosinya, tapi dia tidak akan tega menyakiti hati Sandra. Jadi Sandra membiarkan Harry marah-marah.

“Aku sedang cuti. Aku cuti selama setahun,” Harry seakan menjawab pertanyaan Sandra yang sebelumnya.

“Lalu sedang apa kau di Seoul?” Sandra melemparkan pertanyaan yang sama untuk Harry.

“Entahlah, aku hanya ingin menyusulmu,” jawab Harry.

Sandra mengambil telepon genggamnya, lalu menghubungi seseorang. “Mr Smith? Ya, aku baik-baik saja. Seseorang menyelamatkanku. Oh ya, aku sedang ada urusan pribadi, jadi aku ingin cuti selama setahun. Katakan pada ayah, aku tidak mau diganggu. Aku akan tetap mengontrol perusahaan sekali-kali, tapi aku tidak akan masuk selama setahun, tolong handle semua pekerjaanku. Ya, aku mengandalkanmu Mr Smith. Thank you,” lalu Sandra mematikan handphone-nya.

“Beres,” ucapnya sambil menatap Harry.

Harry hanya diam, tanpa ekspresi.

“Kau akan liburan bersamaku Mr Dilton. Kita akan bersama selama setahun ini,” ujar Sandra sambil tersenyum girang.

Sementara itu, di kediaman keluarga Cho. Cho Kyuhyun sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan keputusannya untuk cuti dan pulang ke rumah. Entahlah, dia sedikit menyesali keputusan itu. Dia memikirkan kemungkinan dia akan mencabut cutinya dan kembali bekerja, tapi mengingat kasus terakhir yang diurusnya Kyuhyun sangat ingin cuti panjang.

Pintu kamarnya sedikit terbuka, “Kyuhyun,” panggil seorang yeoja hati-hati.

Hah, pasti itu MinRin, lebih baik aku pura-pura tidur, pikir Kyuhyun. Karena tidak ada jawaban, MinRin menutup pintu kamar hati-hati. Kyuhyun membuka matanya lagi. Huft, apalagi ada yeoja itu di rumah. Benar-benar merepotkan, sungutnya kesal.

* * *

Amelia dan Dennis sedang berjalan-jalan di taman kota hari itu. Hari minggu yang cerah membuat taman kota dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Anak-anak yang bermain, ibu-ibu yang sedang bergosip, maupun bapak-bapak yang sedang mengajari anaknya bermain sepak bola. Amelia menggandeng tangan Dennis, seolah-olah kakaknya itu kekasihnya. Dennis hanya terkekeh melihat tingkah Amelia. Mereka duduk di bangku taman sambil menikmati es krim.

“El, kau serius mau pindah ke Indonesia?” tanya Dennis tiba-tiba.

“Tentu saja. Oppa tahu kan aku tidak main-main soal itu,” jawab Amelia seraya mengulum es krimnya.

“Tundalah kepindahanmu. Setidaknya sampai oppa selesai cuti,” pinta Dennis.

“Baiklah, akan kupikirkan,” jawab Amelia.

Setelah menghabiskan es krim dan lelah berkeliling, Amelia dan Dennis memutuskan untuk pulang. Mereka naik bis menuju rumah. Amelia sengaja tidak meminta Dennis menyetir mobil. Dia sedang ingin merasakan lagi naik bis bersama Dennis seperti saat dia masih sekolah dasar. Mereka berjalan kaki sambil mengobrol menuju rumah. Lalu tiba-tiba Dennis berbalik menoleh ke belakang. Tindakannya mengakibatkan Amelia juga menoleh ke belakang.

“Ada apa oppa? Tidak ada siapa-siapa di sana,” tanya Amelia heran.

Dennis tidak menjawabnya. Sebelah tangannya mengenggam tangan Amelia dan sebelah tangannya lagi memegang pistol kecil yang disembunyikan di balik jaket yang dipakainya. Pistol kecil itu selalu dibawanya kemana pun. Mata Dennis mengawasi jalan kecil menuju rumah mereka.

“Oppa…” rintih Amelia panik.

Dennis masih diam. Jalan kecil itu cukup terang sebagai lokasi terjadinya tindak kejahatan. Dennis menarik tangan Amelia, membawanya buru-buru menuju rumah. Amelia tahu ada sesuatu yang aneh terjadi, tapi dia tidak berkomentar apa pun dan hanya mengikuti seluruh instruksi Dennis. Dennis memutar kunci rumah, lalu masuk lebih dulu. Meninggalkan Amelia di dekat pintu depan. Dennis menyalakan lampu-lampu dan menajamkan pendengarannya. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, Dennis menutup pintu depan, menguncinya dan menarik Amelia agar selalu di dekatnya. Dia menyibak gorden sedikit, mengintip ke halaman depan rumahnya yang kelihatan tenang-tenang saja. Sekejap tadi dia yakin, ada yang mengikutinya dan Amelia. Semoga saja itu hanya pikiran paranoidnya.

Dennis menutup gorden kembali dan menatap Amelia yang cemas. Gadis itu sebenarnya sudah biasa dengan hal seperti ini. Sama halnya seperti Dennis, ayah mereka, Dean adalah anggota FBI juga. Maka hidup dalam keadaan paranoid seperti ini adalah hal biasa bagi mereka. Tapi masalahnya, ayah mereka pensiun segera setelah Amelia masuk sekolah dasar dan setelah itu kehidupan mereka kembali normal. Menghadapi situasi paranoid seperti benar-benar menakutkan bagi Amelia. Dia yakin seharusnya mereka sudah hidup normal tanpa berurusan dengan FBI lagi. Amelia tidak tahu Dennis juga anggota FBI sekarang.

“Jangan takut begitu dong El. Ada oppa di sini,” ujar Dennis sambil merangkul adiknya.

“APA?! Oppa masih bisa bicara begitu setelah tiba-tiba bertingkah aneh seperti tadi?” pekik Amelia histeris. “Oppa nyaris membuatku serangan jantung.”

I’m sorry. I’m just a little bit paranoid,” Dennis melepaskan rangkulannya dan menunduk memandang lantai.

“Oppa..” sekarang giliran Amelia yang memeluk Dennis. “Jangan marah, aku hanya sedikit panik sampai berteriak padamu,” ujarnya tak enak. Walaupun dalam hatinya, Amelia tidak hanya sekedar ‘merasa sedikit panik’, tapi dia harus kuat. Dia tidak ingin menyakiti Dennis.

I know El. It’s okay,” balas Dennis sambil tersenyum tipis, lalu mengelus kepala adiknya. “Mandi sana, kau bau.”

Amelia melemparkan bantal ke wajah Dennis. Sambil memasang wajah kesal, dia beranjak menuju kamarnya dan bergegas mandi. Sementara Dennis menatapnya sambil tertawa-tawa geli melihat ekspresi kesal Amelia.

* * *

Kyuhyun duduk di sofa dengan wajah ditekuk. Seharian ini MinRin selalu muncul mengekori apa pun yang dilakukannya.

“Kyuhyun ah, aku buatkan makanan ya?”

“Kyuhyun ah, aku ambilkan minum ya?”

“Kyuhyun ah, air mandimu sudah kusiapkan.”

Dan berbagai macam kalimat-kalimat lain yang membuat Kyuhyun sebal setengah mati. Ingin rasanya dia mengusir gadis itu dari rumahnya. Tapi itu tidak mungkin. Ibunya sangat menyayangi tunangannya itu. Tidak seperti Kyuhyun, yang sangat membencinya.

“Kyuhyun ah, kau marah padaku ya?” tiba-tiba MinRin sudah duduk di sampingnya di sofa.

“Bisa tidak kau tidak mengangguku dengan celotehanmu? Aku pulang ke rumah karena ingin menikmati waktuku dengan tenang,” ujar Kyuhyun kesal.

Minrin mengkeret ketakutan ditatap dengan pandangan membunuh oleh Kyuhyun. “A..a. aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” kata Minrin terbata.

“Kyuhyun ah, jangan terlalu keras pada Minrin,” tegur Nyonya Cho yang baru saja tiba di rumah. “Ayo, pergilah. Temani tunanganmu berjalan-jalan,” tambah Nyonya Cho lagi.

Kyuhyun hanya menggerutu, lalu bangkit menuju kamarnya. “Kau bersiap-siap. Aku mau ganti baju dulu,” tukasnya dingin.

Minrin langsung memekik kegirangan. Sepuluh menit kemudian, Kyuhyun siap dengan kunci mobil di tangannya. Mereka pergi ke taman kota. Ada banyak orang di sana. Berlalu lalang dengan segala macam kegiatan.

“Kyuhyun ah, kita duduk di sana yuk,” Minrin menarik lengan Kyuhyun menuju bangku yang baru saja ditinggalkan sepasang manusia. Kyuhyun merasa siluet pasangan tersebut ia kenal. Dan beberapa detik kemudian dia sadar itu Dennis Park, atasannya bersama seorang wanita yang tidak dikenal Kyuhyun.

Mereka duduk di bangku itu dan tiba-tiba saja MinRin berkata ingin makan es krim. Karena Kyuhyun malas menemaninya, dibiarkan saja Minrin membeli es krim sendirian. Kyuhyun memejamkan matanya, membiarkan kebisingan taman kota memasuki telinganya, melupakan sejenak kasus terakhir yang membuatnya muak. Bulu kuduk Kyuhyun tiba-tiba meremang. Perasaannya tidak enak. Kyuhyun bergegas menyusul Minrin, namun dia tidak melihat Minrin dimana pun. Seseorang berjalan cepat dan menyenggol Kyuhyun dan secarik kertas terjatuh. Kyuhyun memungut kertas kecil itu dan membacanya.

Tunanganmu ada padaku. Ikuti permainanku kalau kau ingin dia selamat.

“Sial,” umpat Kyuhyun. Ada yang mengikutinya rupanya dan orang yang mengikutinya tahu betul siapa dia dan hubungannya dengan Minrin. Kyuhyun membaca sekali lagi tulisan di kertas kecil itu. Tulisannya diketik komputer, sehingga dia tidak bisa menganalisis tulisan tangannya. Digenggamnya kertas itu erat-erat. Mata Kyuhyun masih mencari-cari di antara keramaian taman kota, walaupun dia tahu Minrin tidak lagi di sana.

* *  *

Harry terpaku saat melihat Kyuhyun ada di taman kota. Kyuhyun bersama seorang wanita yang tidak dikenali Harry. Sedang apa dia di sini? Batin Harry penasaran. Sandra dan Harry baru saja memasuki sebuah cafe kecil di seberang taman kota. Mereka bisa melihat dengan dengan jelas taman kota dari meja dimana mereka duduk sekarang.

“Mr. Dilton, kau baru saja mengabaikan pertanyaanku tadi,” keluh Sandra kesal.

Harry masih belum menggubrisnya.

Hello? Harry, can you hear me?” seru Sandra lagi sambil melambai-lambaikan tangan di wajah Harry.

“Ah, apa kau bicara sesuatu?” tanya Harry setelah mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

“Sudahlah, lupakan saja,” ujar Sandra putus asa. “Ada apa? Kau kelihatan cemas saat memandang taman kota,” lanjut Sandra yang jelas memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Harry tadi.

“Aku melihat temanku dan dia…” kalimat Harry menggantung saat melihat Kyuhyun menoleh ke segala arah, “panik,” sambung Harry lagi. Wajah Kyuhyun tetap tenang, tapi Harry bisa melihat sorot kepanikan di matanya.

Sandra mengikuti arah pandangan Harry, walaupun dia tidak tahu siapa yang ditatap Harry. “Apa kau akan terlibat masalah lagi?” tanya Sandra to-the-point.

Harry tersenyum getir sambil mengangkat bahunya. Masalah.. akan selalu menguntitnya kemana-mana.

* * *

Minrin ingin menjerit, namun mulutnya ditutup dengan selotip hitam tebal. Tangannya diikat, tetapi kakinya tidak. Dia tidak dipukuli, tidak juga disakiti fisiknya. Dia didudukkan secara paksa pada kursi kayu di sudut ruangan. Ruangan ini cukup temaram untuk menjadi sarang pelaku kriminal. Laki-laki yang membawanya berbicara dengan seseorang dalam bahasa Inggris dengan aksen yang kental. Minrin bisa menangkap sekilas pembicaraannya. Laki-laki itu menjadikannya tumbal untuk mendapatkan Kyuhyun. Minrin berpikir keras, apa hubungannya Kyuhyun dengan semua ini?

Telepon itu ditutup dan seseorang masuk ke dalam ruangan tempat Minrin disekap. Dia berdiri dalam jarak yang cukup jauh bagi Minrin untuk melihat wajahnya dengan jelas, tetapi ucapannya terdengar jelas di telinga Minrin. Cukup untuk membuatnya bergidik ngeri membayangkan nasibnya.

“Kau tahu Nona Muda, segalanya dimulai dari dirimu. ”

Dari dirinya? Minrin tenggelam dalam kebingungannya atas apa yang terjadi saat ini.

-TBC-

Masih penasaran? Atau bosan karena kepanjangan?

SooYan ah, kabari aku kalau udah baca :*

*This post is protected by ©qL_fiction*

Advertisements

6 thoughts on “HIDE!! – Chapter 1

  1. lapoooor !
    sudaah d baca dgn seksama.
    #lagi.lagi poppo. -,-

    penasaraaaaaann……
    lanjut, author 😀
    ga bosan sama sx dah.

    Like

  2. Biasanya ya, aq g trlalu suka kalo baca ff korea yg cast nya campur2 gni (kecuali novelnya Ilana Tan yg Summer in Seoul). Soalnya ntar feelnya aneh gtu mnurutq, gaya bahasanya jg.
    Tp entah napa karakter Amelia sm Dennis ini yg dr Indo g mslh buatq.
    Dan kenyataannya stlh aq baca,
    aku suka. 🙂

    sdh dpt pncerahan dikit nih, si dennis, harry, kyuhyun anggota FBI y?

    Like

    1. bahasa penulisan FF ini masih jauh dari rapi emang eon, karena ini masih aku tulis di awal-awal aku bikin blog. Keragaman cast memang sengaja biar ga terlalu Korea.

      Yep, selain mereka bertiga FBI akan ada benang merah lain yang nyatuin mereka 🙂
      so, keep rading eon ❤

      Liked by 1 person

Your Review, Please....?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s